Bersama gumulan cerita-cerita baru di kepalanya, Kalina melamun. Diam. Sunyi.
Matanya menelusuri deretan foto-foto di ruang perlindungan imajinasi yang Ia sebut kamar.
Ditarik selimutnya. Hangat. Bukan dari selimut kumal yang membalut tubuhnya, melainkan dari tetesan air kehidupan di matanya.
Yah, Kalina menangis. Diserbu oleh hantu-hantu kenangan manis yang rasanya lebih pantas disebut pahit.
Dipandanginya lekat-lekat sosok pria yang tengah menggendong anak kecil berambut tipis.
Itu Kalina, dan sang sosok lalu.
Semangatnya untuk kembali bercerita dan bermain kata, hilang ditampar sendu.
Alih-alih mengusap air mata, Kalina malah tertawa. Berpikir: "Ah, hidup ini sungguh lucu!"
"Ratusan kali ku coba tersenyum, ribuan kali aku dihujam sendu."
Diusap basah di bawah matanya. Perlahan Kalina berbisik, "Ayah, aku rindu...."
Kalina pun beranjak pergi. Meninggalkan semua potongan cerita bisu di bingkai bambu.
Sendu yang mengaku sang lalu, sendu yang memaksa menetap di hati Kalina, sekali lagi menjadi pemenang malam itu.
(-Meninggalkan netbook yang masih menyala-, 16 Desember '11, ruang imajinasi)




